www.mesujisatulampung.com
Warga yang berada di beberapa Desa di Kecamatan Rawa Jitu Utara(RJU), Kabupaten Mesuji mengeluhkan banjir yang sudah terjadi puluhan tahun ketika musim hujan diduga tidak ada solusinya oleh Pemerintahan Kabupaten Mesuji untuk menanggulangi banjir.Jum’at(14/1/2022)
Lokasi banjir yang dikeluhkan tersebut berada dibeberapa Desa yang berada di Kecamatan RJU sekitar. Banjir kerap terjadi lantaran diduga kanal tersebut dangkal dan kurang luas sehingga tidak mampu menampung aliran air hujan sehingga meluap dan menggenangi rumah warga.
Salah seorang warga terdampak banjir yang enggan disebutkan namanya sebut saja Surti menceritakan, setahun terakhir sudah puluhan kali musibah banjir dialami masyarakat setempat dan selalu waspada dan dihantui rasa takut setiap hujan dengan intensitas tinggi melanda, jelasnya.
“Ya setiap durasi hujan lebih dari dua jam dengan debit yang tinggi, maka sudah dipastikan akan banjir. Selain perabotan seperti TV, Kasur serta kursi ada lagi sejumlah perlengkapan elektronik yang dimiliki juga berulang kali rusak dan tidak dapat difungsikan setiap kali banjir datang. Apalagi kalau terjadi tengah malam, jadi sudah lah pasrah dan berserah diri kepada Allah SWT. Coba Pemerintah Kabupaten Mesuji khususnya Bupati berikan solusi, tidak kasihan apa kepada kami,” jelasnya, Kamis(13/1/2022).

Selain perabotan rumah yang kerap kali rusak bahkan keselamatan nyawa kami terancam, kami juga takut kalau satwa liar seperti ular masuk kerumah dan selain satwa liar banjirpun pasti membawa sampah. Coba wartawan yang ada disekitar RJU agar setiap banjir disini diberitakan terus biar pemerintah tau dan bisa kasih solusi, ungkapnya.
Selai keluhan warga Kecamatan RJU, ada juga sempat viral disebuah akun Facebook milik anggota DPRD Mesuji Edi Sucipto yang ditanggapi para netizen seperti 133 orang yang menyukai dan ada 36 Komentar.
Sedang akun Facebook Edi Sucipto bertuliskan, “saudaraku se Rawa Jitu Utara banjir kali ini membuat saya berpikir bahwa banjir seperti ini bukan kali ini saja dan waktu kita transmigran datang toh rumah yang di siapkan juga adalah rumah panggung untuk itu saya hanya mengingatkan apabila kita akan membangun rumah atau bangunan apapun usahakan pondasi yang tinggi agar kita lebih aman apabila ada banjir seperti ini”.
Salah satunya tanggapan dari netizen datang dari Alkat Ardianto yang bertuliskan, betul itu pak. Seharusnya kita membangun rumah itu disesuaikan dengan kondisi alamnya. Contoh di Mesuji, mengapa dulu kakek moyang kita mrmbangun rumah panggung karena mereka tau, rumah panggung itu yang paling cocok untuk daerah bantaran sungai.
Sedangkan dari Fitria Rohmayanti, nelongso aku mang delok umaeh adekku banjir. Iya tul tu pak, Itu apa termasuk rumah Bpk juga kebanjira, dari netizen Yahya.
Lain tanggapan dari netizen Nafian Faiz, Sudah rumah dibuat demplok ke tanah, ditambah lagi segala rawa dan embung sekarang telah di timbun dan diuruk. Bahkan netizen Sahabatyuas Shr, 12 Desa aja pak dewan, Alhamdulillah gunungtiga gak banjir.
Banyak paktor ditempat kita Pakk,1 hutan sebagai penyerapan air SDH tidak ada,2 parit/sekunder kurang maksimal,3 perbatasan trans& PT Bw,tanggul’a kurang tinggi& masih bnyk lgi yg lain’a, dari netizen Roswanraja.((Team))


COMMENTS